Pinned Post

Review Film Sore: Istri dari Masa Depan — Drama Romantis Time Travel yang Menyentuh Hati

Gambar
Film Sore: Istri dari Masa Depan — Drama Romantis Time Travel yang Menyentuh Hati Pendahuluan Dunia perfilman Indonesia kembali menunjukkan kelasnya dengan hadirnya film Sore: Istri dari Masa Depan, sebuah adaptasi dari web series yang dahulu viral dan kini sukses di layar lebar. Film ini membawa tema yang jarang digarap dengan serius di perfilman lokal: time travel romantis, dibalut dengan emosi yang dalam dan sinematografi yang kuat. Film ini bukan hanya sukses secara jumlah penonton, tetapi juga berhasil meninggalkan kesan mendalam bagi banyak penikmat film Tanah Air, terutama kalangan muda yang terbiasa dengan narasi cinta yang kompleks dan emosional. poster-sore-matahari-terbenam.webp Trailer YouTube: SORE:ISTRI DARI MASA DEPAN Sinopsis Film Sore: Istri dari Masa Depan Premis Cerita Mengambil latar di Jakarta masa kini, Sore: Istri dari Masa Depan bercerita tentang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), seorang pria ambisius yang suatu hari bertemu dengan wanita bernama Sore (dip...

Santet Segoro Pitu (2024): Film Horor Indonesia yang Bikin Merinding

Sinopsis & Ulasan Film Horor Santet Segoro Pitu (2024) – Teror Ilmu Hitam dari Tujuh Lautan

Tentang Film Santet Segoro Pitu

Santet Segoro Pitu adalah film horor klenik Indonesia yang dirilis pada 7 November 2024.  Disutradarai oleh Tommy Dewo dan diproduksi oleh Hitmaker Studios, film ini diadaptasi dari kisah nyata yang dinarasikan oleh Betz Illustration di kanal YouTube dan utas X (Twitter) miliknya.  

Kolase promosi Santet Segoro Pitu di Netflix menampilkan keluarga Sucipto dan suasana makan bersama
promosi-netflix-santet-segoro-pitu.webp



Tautan Trailer Resmi:



Pengenalan Film

Judul asli: Santet Segoro Pitu

Judul internasional: Curse of the Seven Oceans

Genre: Horor supernatural / magic black

Sutradara: Tommy Dewo  

Penulis skenario: Riheam Junianti (berdasarkan cerita Betz Illustration)  

Produksi: Rocky Soraya, dengan eksekutif produser Luna Maya, Lisbeth Simarmata, Raam Soraya, Iman Usman  

Pemain utama:

Ari Irham (Ardi)

Sandrinna Michelle (Syifa)

Christian Sugiono (Sucipto)

Sara Wijayanto (Marni)

Khafi Al‑Juna (Arif)  


Lokasi & Tanggal Rilis

Lokasi syuting: Kota Semarang, Jawa Tengah, dengan beberapa adegan pantai untuk ritual tujuh pantai suci  

Tanggal tayang: Tayang perdana di bioskop Indonesia tanggal 7 November 2024  


Pencapaian Box Office

Film ini berhasil mencatat sekitar 1,3 juta penonton di minggu ke-12 penayangannya  

Meskipun tidak menembus angka 4 juta penonton seperti beberapa film horor lain di tahun 2024, pencapaian ini patut diapresiasi mengingat ketatnya persaingan genre horor lokal yang sedang sangat digemari


Poster menyeramkan Santet Segoro Pitu dengan gambar tubuh manusia dijadikan media santet
poster-ilmu-hitam-santet-segoro-pitu.webp


BACA JUGA:/review-ne-zha-2-2024-film-animasi


Sinopsis & Alur Cerita

1. Latar Belakang dan Awal Kutukan

Cerita bermula tahun 1970-an di Semarang ketika Sucipto, seorang pedagang pasar, menggunakan santet atau ilmu hitam untuk meningkatkan dagangannya. Temannya, Sardi, memperingatkannya, tapi Sucipto nekat memanggil dukun untuk keberuntungan dagang .
Akibatnya terjadi peristiwa tragis: rivalnya, Wicak, melakukan balas dendam lewat santet, menyebabkan kematian anak Sucipto. Konflik antargenerasi dan kutukan itu tetap tersimpan sampai bertahun-tahun kemudian.

2. Munculnya Kutukan Baru

Setelah Ardi menemukan bungkusan aneh, hal mistis mulai terjadi dalam rumah keluarga Sucipto: suara-suara gaib, gangguan fisik dan mental. Sucipto kemudian jatuh sakit, dan adiknya, Arif, bahkan mengalami mutilasi hingga tewas .

3. Penyidikan Sumber Kutukan

Ardi dan Syifa, kini berstatus remaja/mahasiswa, bekerja sama dengan Rustam, dukun spiritual. Mereka menyelidiki apakah Sardi atau Wicak di balik kutukan ini, lalu menemukan bahwa kutukan itu berkaitan dengan ilmu hitam “Segoro Pitu” – santet laut tujuh pantai .

4. Klimaks Ritual Penyucian

Rustam menginstruksikan ritual ru­wat, yakni pembersihan melalui air dari tujuh titik pantai yang diyakini menjadi sumber kekuatan kutukan tersebut. Prosesnya penuh tantangan supernatural: mereka dituntut menghadapi penguasa roh laut, mempraktikkan kekuatan “mata ketiga”, dan berhadapan langsung dengan Suanggi — roh berbahaya dari ilmu hitam .

5. Penyelesaian & Akhir Cerita

Setelah dilewati berbagai adegan ekstrem, finalnya Ardi dan Syifa berhasil memadamkan Suanggi dengan menyiram roh itu menggunakan air dari tujuh pantai. Sucipto dan Rustam, yang sebelumnya sekarat, kembali pulih secara mengejutkan. Mereka pun berjanji meninggalkan ilmu hitam selamanya. Mbah (dukun) menutup film dengan ritual kecil untuk menolak masuknya ilmu hitam ke toko Sucipto .


Kelebihan & Kekurangan Film

Kelebihan

Inspirasi budaya lokal
Film ini berhasil memasukkan elemen spiritual Indonesia, seperti naïf percaya terhadap santet laut tujuh pantai, ritual, dan konsep mata ketiga.

Penyajian naratif intergenerasi
Menampilkan konflik antara Sucipto (generasi tua yang menggunakan ilmu hitam) dan Ardi/Syifa (generasi baru yang mencoba menebus kesalahan) menciptakan unsur dramatis yang cukup dalam.


Kekurangan

Eksekusi horor yang tidak maksimal
Menurut Debanjan Dhar, film ini justru membosankan karena efek visual berlebihan dan jalan cerita dikemas secara terkesan “konyol” sehingga lebih lucu dari menyeramkan .

Karakter kurang berkembang
Banyak karakternya terasa datar, sehingga penonton sulit terbawa emosi menyaksikan penderitaan mereka .

Penggunaan CGI yang berlebihan
CGI “murahan” dalam adegan klimaks disebut merusak suasana ketakutan dan membuat kesan dramatis hilang .


Poster resmi film Santet Segoro Pitu menampilkan potret keluarga Sucipto yang terganggu oleh kutukan
poster-keluarga-santet-segoro-pitu.webp



Reaksi dan Review di Masyarakat

Penonton dan kritikus di IMDb menyebut film ini “disengaja menjadi lucu” karena negasi rasa ngeri yang diharapkan .

Di platform MUBI, meski tersedia sinopsis plot, film ini belum tersedia untuk streaming .

Film ikut membawa fenomena pasar horor Indonesia yang sedang kian menjamur, terutama di platform digital seperti Netflix .


 Pesan Moral dari Film

1. Keserakahan mendatangkan kutukan
Sucipto menggunakan ilmu hitam karena ingin cepat kaya, namun justru meneror keluarganya sendiri. Ini refleksi penting: terkadang cara pintas merugikan keberlangsungan hidup.

2. Menebus kesalahan dengan bertanggung jawab
Di akhir cerita, Sucipto sadar, bertobat, dan ingin menghapus kejahatannya. Ardi dan Syifa rela melewati ritual berat demi menebus dosa keluarga mereka.

3. Kekuatan keluarga dan solidaritas
Anak dan orang tua memiliki peran penting dalam menyelamatkan keluarga mereka. Solidaritas, rasa cinta, dan kerjasama lintas generasi menjadi fondasi penyelamatan keluarga.

4. Hindarilah ilmu hitam
Film secara jelas mengecam praktek santet dan ilmu hitam—menunjukkan betapa membahayakannya pada kesejahteraan jiwa manusia.


Pendapat Pribadi

Saya melihat Santet Segoro Pitu sebagai usaha berani untuk menyuguhkan horor dengan bobot lokal dan spiritual, bukan sekadar jumpscare ala barat. Saya menghargai upaya mengangkat tema santet laut—tidak sering dimainkan di layar besar.

Namun, hasil akhirnya terasa setengah matang. Penonton modern, terutama generasi milenial dan Gen Z, umumnya memiliki standar tinggi terhadap efektivitas horor, dan film ini tampak masih mengejar formula lama: banyak efek dan minim emosi. CGI yang murahan dan karakter yang kurang berkembang benar-benar menjadi penahan narasi.

Secara keseluruhan, film ini dapat menjadi tontonan yang menyeramkan bagi sebagian orang—khususnya penggemar urban legend dan cerita supranatural tradisional Indonesia. Namun, karena banyak kekurangannya, saya menilai film ini pantas mendapat skor 6 dari 10, sejalan dengan beberapa review IMDb .


Bandingkan dengan Film Horor Indonesia Lain

Film seperti Badarawuhi di Desa Penari dan Ipar Adalah Maut menyajikan unsur horor budaya dengan pendekatan visual dan naratif yang lebih halus, sehingga mampu menembus 4 juta penonton .

Dibandingkan serial Netflix seperti Pengabdi Setan atau Sewu Dino, Santet Segoro Pitu kalah dari segi atmosfer, struktur cerita, dan kekuatan emosional. Namun film ini tetap punya nilai kultur lokal dan pesan moral yang patut diapresiasi.

Ardi tampak terkejut saat melihat sosok misterius bertubuh besar dari belakang dalam film Santet Segoro Pitu
ardi-melihat-sosok-santet-segoro-pitu.webp




Kesimpulan

Judul: Santet Segoro Pitu (Curse of the Seven Oceans)

Genre: Horor supernatural santet (2024)

Kelebihan:

Menggali budaya santet lokal

Tema lintas generasi menarik

Pesan moral tentang tanggung jawab dan penghindaran ilmu hitam


Kekurangan:

CGI tidak maksimal

Alur & karakter minim kedalaman emosional

Beberapa penonton malah merasa filmnya lucu ketimbang menegangkan


Rekomendasi: Bagi kamu yang mencari film horor tradisional Indonesia dengan cita rasa lokal dan tidak masalah dengan kekurangan teknis, film ini masih layak ditonton. Namun, jika kamu menginginkan horor berkualitas sinematik tinggi, sebaiknya coba dulu judul lain yang telah mendapat respon positif.

Penutup

Santet Segoro Pitu hadir di tengah gelombang horor Indonesia yang beragam: dari urban legend, jump‑scare, hingga ritual lokal. Film ini membawa napas baru lewat tema santet laut Segoro Pitu dan keberanian mengangkat kutukan lintas waktu antar-generasi. Namun sayang, kemampuan teknis dan sinematiknya belum mampu menyamai ambisi cerita. Meski begitu, pesannya tetap kuat: jangan pernah nekat menggunakan kekuatan di luar batas moral manusia—karena harga yang ditanggung bisa jauh lebih besar.

Saya pribadi memberikan apresiasi atas usaha tim kreatif menjaga nilai-nilai budaya dalam horor, sekaligus merasa filmnya bisa jauh lebih baik. Dari sini, ada harapan bagi sineas Indonesia untuk terus menggali cerita lokal—dengan kualitas eksekusi yang lebih matang. Horor bukan cuma soal menakut-nakuti, tapi juga menyampaikan nilai-nilai penting tentang tanggung jawab, keluarga, dan kebijaksanaan.

Bagaimana pendapatmu? Apakah kamu pernah menonton film ini? Tulis kolom komentar ya—apakah kamu setuju kalau film ini terlalu “horor murahan” atau justru kamu merasakan ada sesuatu yang menyentuh secara spiritual? Jangan lupa share dan like artikel ini kalau bermanfaat 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review film Gowok: Kamasutra Jawa – Eksplorasi Cinta, Tradisi, dan Seksualitas dalam Budaya Jawa

Review Deadpool & Wolverine (2024): Kolaborasi Brutal dan Kocak Duo Antihero Marvel

Trilerr Fast X (2023) – Aksi Balas Dendam di Balik Keluarga Toretto