Review Film Sore: Istri dari Masa Depan — Drama Romantis Time Travel yang Menyentuh Hati
Waktu Maghrib 2 (2025): Teror Gaib Kembali Menghantui Desa Giritirto
Sinopsis |
Dua dekade setelah teror jin Ummu Sibyan di Desa Jatijajar, ketenangan semu menyelimuti Desa Giritirto. Namun, kedamaian itu terganggu ketika sekelompok remaja—Yogo, Dewo, Wulan, dan lima teman lainnya—mengalami kekalahan dalam pertandingan sepak bola melawan tim desa tetangga. Dalam perjalanan pulang saat senja, mereka melontarkan sumpah serapah yang tanpa disadari membangkitkan kembali kekuatan gelap Ummu Sibyan. Teror pun kembali menghantui, dengan anak-anak desa menghilang secara misterius dan kejadian kesurupan massal terjadi. Adi, tokoh dari kejadian sebelumnya yang kini telah dewasa, kembali untuk melawan teror lama itu dan melindungi generasi baru dari ancaman gaib yang dulu membuatnya trauma.
![]() | ||
|
Suasana dan Produksi
1. Atmosfer Gelap & Sinematografi
Sutradara Sidharta Tata kembali berhasil membangun atmosfer horor yang intens—berbasis latar malam di hutan dan halaman desa. Pencahayaan temaram di luar maghrib benar-benar terasa “ngeri” .
2. Jump‑scare & Gore
Film ini dibanjiri sesi jumpscare dan adegan brutal cukup sering, dan banyak kritikus menyebutnya berhasil bikin penonton “nahan napas” . Meski ada pengulangan formula, namun intensitasnya masih cukup brilian.
3. Peningkatan dari Film Perdana
Banyak review menyatakan bahwa Waktu Maghrib 2 adalah peningkatan dari sekuelnya: pacing lebih cepat, adegan lebih intens, dan karakter lebih menonjol .
4. Kelemahan Cerita
Namun beberapa review mengkritik minimnya eksplorasi mitologi Ummu Sibyan, serta munculnya adegan komedi yang terasa memecah ketegangan dan agak “maksa” .
Pemeran Utama
Omar Daniel sebagai Adi (dewasa)
Anantya Kirana sebagai Wulan
Sulthan Hamonangan sebagai Yogo
Ghazi Alhabsyi sebagai Dewo
Muzakki Ramdhan sebagai Endro
Sadana Agung sebagai Hansip
Nopek Novian sebagai Naufal
Fita Anggriani sebagai Ayu
Buyung Ispramadi sebagai Pak Drajat
Penampilan Aktor
Anantya Kirana (Wulan): dianggap sebagai pemeran paling menonjol—senyumnya, ekspresi ketakutan dan perjuangannya terasa sangat natural .
Muzakki Ramdhan (Endro): tampil cukup menyeramkan—review Letterboxd menyebut “scary villain” .
Omar Daniel (Adi): dipuji sudah matang dan emosional, meski ada kritik bahwa karakternya terasa sedikit “binger” .
Sulthan Hamonangan & Ghazi Alhabsyi (Yugo & Dewo): tampil meyakinkan mewakili remaja yang ceroboh dan ketakutan .
Aktor lain seperti Sadana Agung, Nopek Novian, Fita Anggriani hadir dalam dukungan, namun beberapa adegan “kesurupan massal” terasa agak kaku atau mirip efek “zombie flick” .
![]() |
| waktu-maghrib-2-adegan-mencekam.webp |
Produksi dan Penayangan
Sutradara: Sidharta Tata
Produser: Gope T. Samtani
Rumah Produksi: Rapi Films, Sky Media, Rhaya Flicks, Legacy Pictures, Kebon Studio
Durasi: 1 jam 47 menit
Rating: 17+
Tanggal Rilis: 28 Mei 2025
Tema & Pesan Moral
1. Tanggung Jawab atas Ucapan
Film menyoroti nilai pedoman tutur: sumpah dan kata-kata negatif punya konsekuensi serius. Terbukti sumpah saat maghrib memicu kegelapan, pelajaran agar kita berhati-hati menjaga lisan.
2. Hormati Limit Maghrib
Sejarah budaya Jawa melarang anak-anak berada di luar saat senja—film ini memperkuat makna maghrib sebagai waktu sakral, pertanda bagi kehidupan manusia untuk kembali ke rumah dan berdoa.
3. Trauma Masa Lalu & Pemulihan
Adi yang ingin menyelamatkan desa tak sekadar pahlawan—dia menanggung beban trauma lalu, tetapi berusaha bangkit untuk melindungi generasi baru.
4. Komunitas sebagai Penangkal Kejahatan
Film menekankan perlawanan terhadap teror gaib bukan hanya soal kekuatan supranatural, tetapi juga kekompakan warga desa dan keteguhan iman.
![]() |
| poster-waktu-maghrib-2-horor-anak.webp |
Opini Pribadi
Sebagai penikmat horor lokal, Waktu Maghrib 2 sukses mengembangkan formula film pertamanya:
Atmosfer & Intensitas: Kombinasi hutan malam, sinematografi temaram, dan jumpscare brutal membuat film ini terasa lebih menegangkan.
Karakter Melesat: Kehadiran pemain seperti Anantya Kirana dan Omar Daniel memberi kedalaman emosional yang terasa nyata.
Mitologi Lokal: Pembahasan tentang Ummu Sibyan menjadi poin menarik, namun masih terasa dangkal—porsi eksplanasi bisa diperdalam, agar penonton yang awam mitologi lokal pun paham betul.
Campuran Horor–Komedi: Humor ringan sesekali membuat suasana tidak monoton, tapi kadang malah terlalu banyak dan mengurangi atmosfer yang sedang panas.
Formula Terulang: Beberapa plot dan adegan terasa deja vu dari film pertama, tapi latar hutan dan intensitas ekstra memberikan pengalaman baru.
Secara keseluruhan, Waktu Maghrib 2 adalah film horor mainstream yang berhasil menyeimbangkan rasa takut dan ketegangan dengan beberapa elemen emosional. Film ini ideal bagi penonton yang suka aksi jump‑scare dan gore, namun kurang bagi mereka yang menantikan pendalaman cerita supranatural yang kompleks.
Rating pribadi: ⭐⭐⭐½ / 5
BACA JUGA:Review film bidaah-
Penutup
Waktu Maghrib 2 adalah sekuel yang cukup memuaskan bagi penggemar horor lokal. Dengan atmosfir gelap, pace intens, dan penampilan aktor yang solid, ia berhasil membangun ketegangan yang seru meski ada beberapa kelemahan cerita.
Pesan utama yang diangkat—hati‑hati dengan ujaran, menghormati maghrib sebagai waktu sakral, dan bagaimana trauma bisa menjadi kekuatan bila ditangani dengan tepat—menambah nilai lebih pada tontonan ini.
Secara keseluruhan, Waktu Maghrib 2 layak jadi pilihan bioskop saat ini—apabila Anda mencari horor dengan tempo cepat, jumpscare menggigit, dan nuansa horor budaya yang kental.
Mntappppppp
BalasHapus