Sijjin (2023) adalah adaptasi film horor Indonesia dari franchise Turki populer Siccîn, disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu dan ditulis oleh Lele Laila—yang sebelumnya sukses lewat judul-judul seperti KKN di Desa Penari, Ivanna, dan Qorin . Film ini diproduksi kolaborasi antara Rapi Films, Sky Media, dan Legacy Pictures, dan dirilis di bioskop Indonesia pada 9 November 2023 .
Mengusung genre supernatural-teror, cerita berkisar pada Irma (Anggika Bolsterli) yang jatuh cinta pada sepupunya, Galang (Ibrahim Risyad), yang telah menikah dengan Nisa (Niken Anjani) dan memiliki anak, Sofia (Messi Gusti). Karena cintanya yang menolak ditolak, Irma menggunakan santet mematikan—ritual hitam yang menimbulkan bencana supernatural dalam lima malam berturut-turut . Namun, teror tersebut justru melahap semuanya, termasuk dirinya sendiri.
Sinopsis
Irma sejak remaja mencintai Galang, yang hanya menganggapnya sebagai sepupu biasa. Setelah bertahun-tahun, Galang menikah dengan Nisa dan membangun keluarga bahagia. Obsesi Irma tak berhenti; untuk memilikinya, dia menemui dukun dan mendapatkan mantra santet yang ditujukan pada keluarga Galang. Dalam 5 malam penuh, serangkaian kejadian mistis—kesurupan, gangguan roh, bahkan kematian—meneror satu rumah. Tanpa disangka, mantra tersebut juga berbalik melukai Irma sendiri.
Analisis Tema & Cerita
1. Obsesi Pernikahan dan Tabu Keluarga
Konflik utama bermula dari hubungan terlarang antara sepupu, sesuatu yang di banyak budaya termasuk Indonesia dianggap tabu. Irma tak hanya melanggar norma, tetapi juga moral dengan cinta obsesifnya pada Galang, yang telah menikah.
Adaptasi ini cukup berhasil memanfaatkan premis kontroversial tersebut sebagai bumbu dramatis. Namun, menurut KINCIR, premis dan elemen serem yang ditawarkan terasa biasa dan tidak istimewa, serupa dengan film horor Indonesia bertema santet sebelumnya . Begitu juga sub-plot seperti sakit misterius ibu Galang atau bagaimana awal hubungan Irma-Galang terbentuk tidak dikembangkan secara memuaskan.
2. Adaptasi dari Siccin
Menurut Letterboxd dan The Arty Dans, adaptasi ini tetap dekat dengan versi Turki dari segi struktur plot, meski ada beberapa perubahan minor . Fokus pada drama keluarga dan karakter perempuan dipuji, tetapi ada anggapan bahwa Lele Laila terlalu menekankan unsur religius, hingga terkesan ceramah daripada menyatu organik ke dalam cerita .
 |
poster-sijjin-kain-kafan.webp
|
Aktor & Akting
Niken Anjani sebagai Nisa
Penampilan Niken Anjani menjadi sorotan utama. Perannya sebagai Nisa yang terjerat santet dan mengalami kesurupan berhasil menciptakan atmosfer menakutkan lewat tatapan kosong dan ekspresi intens . Menurut KINCIR, adegan-adegan ini membuat penonton merinding.
Anggika Bolsterli sebagai Irma
Sebagai pusat konflik, Irma diposisikan sebagai tokoh yang kompleks—obsesif dan tragis. Namun,setengah audiens menyebut karakternya “pathetic” karena reaksi emosinya yang dramatis berlebihan dan kurang simpati .
Ibrahim Risyad dan Messi Gusti
Galang tampil sebagai sosok suami yang dilema, sementara Messi Gusti sebagai anak ‘korban situasi’ memberikan nuansa innocent yang menimpulkan kesan seram secara halus. Meskipun kehadiran Messi cukup minimal, hal ini tetap diakui menyumbang efek horor tersendiri .
Atmosfer & Produksi
Setting & Makeup
Penggunaan setting tradisional—seperti rumah dukun—menciptakan suasana angker yang berhasil membangun ketegangan awal . Efek visual dan makeup grotesk mendapat pujian dari epipap6 di Lemon8, yang memberi rating 4,5/5 pada tingkat keseraman, dipengaruhi oleh realism dan efek makeup yang memikat .
Suara & Scoring
Sutradara dan tim scoring tampaknya mencoba membangun nuansa mencekam melalui scoring tegang dan pengambilan gambar yang cermat. Meski scoring berhasil menyumbang atmosfer, beberapa penonton menganggap musiknya terlalu dipaksakan, terutama saat backing religius muncul tiba-tiba .
Jumpscare
Jump scare adalah komoditas utama dalam horor Indonesia, namun dalam Sijjin eksekusinya dikritik karena kurang efektif. Beberapa di antaranya terasa terlalu lambat dan berlebihan, bahkan ada kesan 'receh' karena efek fast-forward yang tidak mulus .
Gore
Sebaliknya, adegan gore mendapatkan aplaus. Beberapa adegan darah dan tubuh mutilasi menyentak penonton secara lebih intens dibandingkan jump scare . Intensitas visual ini berhasil memberikan sensasi ngilu yang tahan lama.
Kelebihan & Kekurangan
Kelebihan Kekurangan
Akting Niken Anjani yang mencekam Cerita terlalu pasaran dan prediktif
Efek gore yang nyata dan mengganggu Jump scare kurang menohok, malah terkesan receh
Makeup & efek visual mendukung atmosfer Plot terasa lamban, terutama di pembuka
Atmosfer mencekam lewat sound & sinematografi Pengembangan karakter kurang dalam, motovasi Irma tidak cukup dieksplorasi
Adaptasi lokal dari franchise sukses Penekanan religius berlebihan bikin terasa seperti ceramah
 |
| adegan-levitasi-sijjin.webp |
Opini Publik
IMDb & Letterboxd
– IMDb: "Atmosphere is creepy, tension well-crafted, disturbing elements serve story, walau overboard"
– Letterboxd: Not bad, with some solid jumps, gore benar-benar terasa, meski plot messy
Reddit
Beberapa kelompok mengaku takut menonton karena menganggap ada mantra magic yang bisa membawa “kesialan” atau “possession” nyata . Meski begitu, komentar satir dan skeptis juga muncul:
> “Not everyone aware of the context... Stop criticizing other's opinion”
“Bro, don't watch it, you're gonna get possessed by a jinn.. /s”
Media Lokal
– Indonesia Senang memberi nilai 7,5/10, memuji suasana seram, plot twist, dan makeup yang keren
– The Arty Dans menyoroti religious overload namun memuji scoring, hallucinasi, gore-related intensity
Perbandingan dengan Siccin (Turki)
Franchise asli, Siccîn, terkenal karena daya horror-nya yang universal dan religious tone-nya yang dalam. Sijjin berusaha menerjemahkan konsep itu ke konteks Indonesia, tapi seringkali terjebak menjadi versi kurang matang. Versi lokal ini masih solid dari sisi atmosfer, namun kehilangan sebagian kekuatan orisinal seperti depth naratif dan nuansa sisi kultural .
Rekomendasi: Siapa yang Harus Menontonnya?
Penggemar horor gore: Sangat direkomendasikan, kesan ngilu lebih dalam daripada rata-rata horor nasional.
Suka horor dengan latar religius: Hindari jika tidak suka dialog terlalu dogmatis.
Pencinta film drama keluarga dengan nuansa mistis: Bisa jadi menarik karena konflik keluarga kental.
Ingin pengalaman horor segar: Mungkin kurang, karena elemen jump scare dan premisnya cukup klise.
Komentar
Posting Komentar