Pemeran Utama
Hana Malasan sebagai Hanif
Yasamin Jasem sebagai Isti
Egy Fedly sebagai Pakde Khair
Ratu Felisha sebagai Bude Sabah
Briliana Desy sebagai Saidah
Ibnu Widodo sebagai Priyanto
Tegar Satrya sebagai Supriyadi
Ony Serojawati sebagai Siti Rokiah
Rating & Tanggapan
Film mendapat rating 6,7/10 di IMDb . Di Netflix, film langsung mencapai puncak daftar terpopuler Indonesia .
3.5 Durasi & Klasifikasi
Durasi sekitar 1 jam 43 menit, rating usia minimal **17+** .
Tema dan kritik sosial
Tema Utama Film Sorop (2024)
Tradisi dan Kepercayaan Lokal vs Zaman Modern
Film Sorop mengangkat tema konflik antara kearifan lokal dengan dunia modern yang skeptis. Hanif dan Isti, sebagai generasi muda yang tumbuh di kota, awalnya tidak percaya dengan ritual puasa sorop. Namun, seiring waktu, mereka harus mengakui bahwa ada realitas di luar nalar logika modern, terutama yang berkaitan dengan dunia spiritual dan adat Jawa.
Pesan: Kita tidak bisa sepenuhnya mengabaikan atau mengejek kepercayaan tradisional hanya karena hidup di era digital. Ada nilai spiritual dan peringatan moral di balik setiap ritual lama.
Keluarga dan Trauma Lintas Generasi
Sorop tidak hanya horor tentang makhluk halus. Ia juga membedah trauma keluarga yang diwariskan. Pakde Khair dan Bude Sabah adalah representasi dari generasi tua yang “mengikat” masa depan generasi muda lewat warisan ritual, baik secara sengaja maupun tidak.
Pesan: Beberapa beban keluarga tidak terlihat secara kasat mata. Film ini menyentuh isu “kutukan keluarga” dalam bentuk literal dan simbolik.
Kultus dan Fanatisme Spiritualitas
Ritual puasa sorop yang melibatkan makan tanah kuburan menjadi simbol ekstrem bagaimana manusia bisa terjebak dalam kultus spiritual, hingga melampaui batas kemanusiaan dan agama. Tokoh-tokoh tua dalam film bersikukuh mempertahankan tradisi meski mengorbankan anggota keluarga lain.
Pesan: Ketika kepercayaan melampaui nalar dan membahayakan hidup, itu bisa menjadi bentuk fanatisme berbahaya.
Ketakutan Kolektif akan Maghrib
Dalam konteks sosial-budaya Indonesia, waktu maghrib kerap dianggap “mistis”. Film ini menghidupkan kembali mitos tersebut dan menyoroti bagaimana ketakutan turun-temurun terhadap “waktu sorop” telah membentuk kebiasaan sosial masyarakat desa.
🔎 Pesan: Ketakutan kolektif bisa diwariskan, bahkan tanpa tahu asal muasalnya. Film ini mengajak penonton untuk menelisik dan memahami akar dari rasa takut itu.
 |
| sorop-2024-sosok-lelaki-ritual.webp |
-Kritik Sosial dalam Film Sorop
Kurangnya Pendidikan Spiritual yang Rasional
Film ini secara tidak langsung mengkritik masyarakat yang menjalankan ritual tanpa memahami makna spiritualnya. Banyak tokoh dalam film sekadar mengikuti ritual karena "sudah tradisi", tanpa memfilter dengan logika atau agama.
Sorop mengajak kita untuk bertanya: apakah semua tradisi harus diteruskan, atau justru ditinjau ulang agar tidak menyesatkan?
Pemujaan Leluhur dan Ketergantungan Mistis
Tokoh seperti Bude Sabah memandang ritual sorop sebagai “sumber kekuatan”. Ini menggambarkan bagaimana sebagian masyarakat lebih percaya pada praktik mistis ketimbang usaha nyata atau doa. Film ini mengkritik kecenderungan sebagian orang yang masih menjadikan jalur gaib sebagai jalan instan meraih kekuasaan atau keselamatan.
Kritik ini relevan dengan maraknya kasus perdukunan atau penipuan berkedok spiritual di masyarakat.
Kurangnya Komunikasi Antar Generasi
Dalam film, Hanif dan Isti tidak mendapat penjelasan yang cukup tentang masa lalu keluarganya. Hal ini menyiratkan kritik terhadap budaya “menyimpan rahasia keluarga” yang bisa berdampak buruk bagi generasi berikutnya.
Masalah ini sering terjadi di keluarga Asia, termasuk Indonesia, di mana aib atau trauma masa lalu disembunyikan alih-alih dibicarakan secara terbuka.
Peran Perempuan dalam Lingkaran Tradisi
Menarik bahwa dua tokoh utama dalam film adalah perempuan—Hanif dan Isti—yang menjadi korban dan penyelamat. Namun mereka juga menjadi penerus “kutukan” yang dibuat oleh generasi sebelumnya, terutama oleh perempuan tua seperti Bude Sabah. Ini bisa dilihat sebagai simbol bahwa perempuan sering ditempatkan sebagai pelindung tradisi, bahkan ketika itu menyakitkan.
Film ini menyentil bagaimana peran perempuan dalam tradisi bisa menjadi beban ketimbang kekuatan jika tidak disadari sepenuhnya.
Kesimpulan
Sorop (2024) bukan sekadar film horor tentang ritual mengerikan dan makhluk gaib. Di balik kisah menyeramkan, film ini sarat dengan tema spiritualitas, trauma keluarga, peran budaya, serta kritik sosial terhadap fanatisme dan ketidaktahuan masyarakat akan akar kepercayaannya.
Dengan membungkus kritik sosial dalam kemasan horor, Sorop berhasil menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya berpikir kritis terhadap tradisi, membongkar rahasia keluarga, dan memutus rantai ketakutan serta trauma yang diwariskan lintas generasi.
Pesan Moral
Keputusasaan dapat menjerumuskan seseorang ke dalam tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Mengandalkan kekuatan gaib untuk menyelesaikan masalah dapat membawa konsekuensi yang mengerikan.
Pentingnya menjaga iman dan tidak tergoda oleh jalan pintas yang tampak mudah namun berbahaya.
 |
| adegan-film-sorop-2024-kerasukan.webp |
Film Sorop (2024) bukan hanya berhasil membius penonton lewat suasana mencekam dan kengerian mistis, tetapi juga menyajikan sajian intens sebuah keluarga yang terjerat ritual kelam. Di balik jeritan, bayangan, dan simbol-simbol supranatural, ia menyimpan pesan penting: konflik personal dan beban masa lalu bisa memicu kekerasan ritual yang menghancurkan. Ending-nya yang dramatis, diwarnai keretakan hubungan antar anggota keluarga, meninggalkan kesan tak mudah hilang—bahwa ketika doa berubah jadi mantra jahat, dan ikatan darah disalahgunakan, maka yang tersisa hanyalah kehampaan dan penyesalan.
Sebagai tontonan horor keluarga, Sorop menyatukan elemen tradisi mistis dan dinamika interpersonal dengan sinematografi mencekam, meretas batas antara rasa takut, simpati, dan rasa bersalah. Buat kamu yang mencari film horor dengan kedalaman emosional dan kekuatan tema ritual leluhur, Sorop adalah pilihan yang tak terlupakan.
💀 Apakah kamu siap memasuki dunia Sorop, menyaksikan bagaimana cinta keluarga bisa diperbudak kekuatan gelap? Jika kamu berani, simpan lampu menyala, dan biarkan bayang-bayang ritualnya menelusup lebih dalam sebelum menutup mata malam ini.
Komentar
Posting Komentar