Pinned Post

Review Film Sore: Istri dari Masa Depan — Drama Romantis Time Travel yang Menyentuh Hati

Gambar
Film Sore: Istri dari Masa Depan — Drama Romantis Time Travel yang Menyentuh Hati Pendahuluan Dunia perfilman Indonesia kembali menunjukkan kelasnya dengan hadirnya film Sore: Istri dari Masa Depan, sebuah adaptasi dari web series yang dahulu viral dan kini sukses di layar lebar. Film ini membawa tema yang jarang digarap dengan serius di perfilman lokal: time travel romantis, dibalut dengan emosi yang dalam dan sinematografi yang kuat. Film ini bukan hanya sukses secara jumlah penonton, tetapi juga berhasil meninggalkan kesan mendalam bagi banyak penikmat film Tanah Air, terutama kalangan muda yang terbiasa dengan narasi cinta yang kompleks dan emosional. poster-sore-matahari-terbenam.webp Trailer YouTube: SORE:ISTRI DARI MASA DEPAN Sinopsis Film Sore: Istri dari Masa Depan Premis Cerita Mengambil latar di Jakarta masa kini, Sore: Istri dari Masa Depan bercerita tentang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), seorang pria ambisius yang suatu hari bertemu dengan wanita bernama Sore (dip...

Sinopsis film Sorop (2024): Sinopsis, Pemeran, dan Tempat Nonton

Sorop (2024): Teror Ritual Mistis dalam Balutan Horor Keluarga

Sorop adalah film horor Indonesia terbaru yang disutradarai oleh Upi Avianto dan diproduksi oleh MD Pictures.  Diadaptasi dari thread viral karya SimpleMan, film ini mengangkat kisah menyeramkan tentang ritual gaib yang menguji batas keimanan dan ikatan keluarga



                   

Poster film Sorop (2024) menampilkan seorang perempuan dalam gaun pink melayang sambil ditarik oleh tangan misterius, dikelilingi jejak darah dan kaki-kaki mayat.
poster-sorop-2024-tangan-gaib.webp


Trailer resmi YouTube:

FILM HOROR SOROP 2024

 Sinopsis :

Sorop mengisahkan kakak-adik Hanif (diperankan oleh Hana Malasan) dan Isti (diperankan oleh Yasamin Jasem) yang kembali ke rumah masa kecil di desa terpencil setelah mendengar sakit keras salah seorang kerabat, Pakde Khair .

Saat tiba, mereka menyaksikan kematian misterius Pakde Khair—dia terlihat mati tetapi bangkit kembali beberapa saat kemudian . Sejak itu, gangguan gaib mulai menghantui, khususnya saat waktu “sorop” (soré-magrib), yang dipercaya makhluk halus jinak mulai berkeliaran .

Penelusuran pun dimulai; mereka menyadari bahwa Pakde Khair menjalankan ritual terkutuk bernama “Puasa Sorop”, di mana satu-satunya “buka puasa” dilakukan dengan makan tanah kuburan, dengan niat membuka pintu komunikasi dengan dunia arwah . Ritual itu ternyata diwariskan juga oleh sosok lain di keluarga, termasuk Bude Sabah (Ratu Felisha) .

Puncaknya, Hanif dan Isti harus menggali fakta ritual ini lebih dalam dan menghadapi teror arwah Pakde yang tak tenang sebelum mereka ikut jatuh sebagai korban.


Informasi dan Fakta Film

Adaptasi dari Thread Viral

Sorop diangkat dari thread viral akun SimpleMan yang mengisahkan pengalaman mistis saat waktu maghrib . Meski thread asli belum selesai, Upi Avianto berhasil mengembangkan narasi lengkap untuk layar lebar .

Sutradara dan Produksi

Sutradara: Upi Avianto, dikenal lewat karya horor sebelumnya.

Produksi: MD Pictures; kolaborasi internasional dengan Barunson E&A (keterlibatan dalam film Parasite) untuk distribusi global . Film dipromosikan dalam Asian Contents & Film Market Busan.

Poster resmi film Sorop (2024) menampilkan perempuan dengan mata putih dan mulut dijahit hitam, duduk terbalik di atas kursi dengan wajah menghadap kamera secara horor.
sorop-2024-mulut-dijahit.webp


Pemeran Utama

Hana Malasan sebagai Hanif

Yasamin Jasem sebagai Isti

Egy Fedly sebagai Pakde Khair

Ratu Felisha sebagai Bude Sabah

Briliana Desy sebagai Saidah

Ibnu Widodo sebagai Priyanto

Tegar Satrya sebagai Supriyadi

Ony Serojawati sebagai Siti Rokiah 


Rating & Tanggapan

Film mendapat rating 6,7/10 di IMDb . Di Netflix, film langsung mencapai puncak daftar terpopuler Indonesia .

3.5 Durasi & Klasifikasi

Durasi sekitar 1 jam 43 menit, rating usia minimal **17+** .


Tema  dan kritik sosial

Tema Utama Film Sorop (2024)

Tradisi dan Kepercayaan Lokal vs Zaman Modern

Film Sorop mengangkat tema konflik antara kearifan lokal dengan dunia modern yang skeptis. Hanif dan Isti, sebagai generasi muda yang tumbuh di kota, awalnya tidak percaya dengan ritual puasa sorop. Namun, seiring waktu, mereka harus mengakui bahwa ada realitas di luar nalar logika modern, terutama yang berkaitan dengan dunia spiritual dan adat Jawa.

Pesan: Kita tidak bisa sepenuhnya mengabaikan atau mengejek kepercayaan tradisional hanya karena hidup di era digital. Ada nilai spiritual dan peringatan moral di balik setiap ritual lama.


Keluarga dan Trauma Lintas Generasi

Sorop tidak hanya horor tentang makhluk halus. Ia juga membedah trauma keluarga yang diwariskan. Pakde Khair dan Bude Sabah adalah representasi dari generasi tua yang “mengikat” masa depan generasi muda lewat warisan ritual, baik secara sengaja maupun tidak.

Pesan: Beberapa beban keluarga tidak terlihat secara kasat mata. Film ini menyentuh isu “kutukan keluarga” dalam bentuk literal dan simbolik.


Kultus dan Fanatisme Spiritualitas

Ritual puasa sorop yang melibatkan makan tanah kuburan menjadi simbol ekstrem bagaimana manusia bisa terjebak dalam kultus spiritual, hingga melampaui batas kemanusiaan dan agama. Tokoh-tokoh tua dalam film bersikukuh mempertahankan tradisi meski mengorbankan anggota keluarga lain.

Pesan: Ketika kepercayaan melampaui nalar dan membahayakan hidup, itu bisa menjadi bentuk fanatisme berbahaya.


 Ketakutan Kolektif akan Maghrib

Dalam konteks sosial-budaya Indonesia, waktu maghrib kerap dianggap “mistis”. Film ini menghidupkan kembali mitos tersebut dan menyoroti bagaimana ketakutan turun-temurun terhadap “waktu sorop” telah membentuk kebiasaan sosial masyarakat desa.

🔎 Pesan: Ketakutan kolektif bisa diwariskan, bahkan tanpa tahu asal muasalnya. Film ini mengajak penonton untuk menelisik dan memahami akar dari rasa takut itu.

Poster film Sorop (2024) menunjukkan sosok lelaki tua berambut panjang duduk bersila dengan perempuan berdiri di belakangnya, tampak misterius di bawah cahaya bulan.
sorop-2024-sosok-lelaki-ritual.webp






-Kritik Sosial dalam Film Sorop

Kurangnya Pendidikan Spiritual yang Rasional

Film ini secara tidak langsung mengkritik masyarakat yang menjalankan ritual tanpa memahami makna spiritualnya. Banyak tokoh dalam film sekadar mengikuti ritual karena "sudah tradisi", tanpa memfilter dengan logika atau agama.

 Sorop mengajak kita untuk bertanya: apakah semua tradisi harus diteruskan, atau justru ditinjau ulang agar tidak menyesatkan?


Pemujaan Leluhur dan Ketergantungan Mistis

Tokoh seperti Bude Sabah memandang ritual sorop sebagai “sumber kekuatan”. Ini menggambarkan bagaimana sebagian masyarakat lebih percaya pada praktik mistis ketimbang usaha nyata atau doa. Film ini mengkritik kecenderungan sebagian orang yang masih menjadikan jalur gaib sebagai jalan instan meraih kekuasaan atau keselamatan.

Kritik ini relevan dengan maraknya kasus perdukunan atau penipuan berkedok spiritual di masyarakat.


Kurangnya Komunikasi Antar Generasi

Dalam film, Hanif dan Isti tidak mendapat penjelasan yang cukup tentang masa lalu keluarganya. Hal ini menyiratkan kritik terhadap budaya “menyimpan rahasia keluarga” yang bisa berdampak buruk bagi generasi berikutnya.

Masalah ini sering terjadi di keluarga Asia, termasuk Indonesia, di mana aib atau trauma masa lalu disembunyikan alih-alih dibicarakan secara terbuka.


Peran Perempuan dalam Lingkaran Tradisi

Menarik bahwa dua tokoh utama dalam film adalah perempuan—Hanif dan Isti—yang menjadi korban dan penyelamat. Namun mereka juga menjadi penerus “kutukan” yang dibuat oleh generasi sebelumnya, terutama oleh perempuan tua seperti Bude Sabah. Ini bisa dilihat sebagai simbol bahwa perempuan sering ditempatkan sebagai pelindung tradisi, bahkan ketika itu menyakitkan.

Film ini menyentil bagaimana peran perempuan dalam tradisi bisa menjadi beban ketimbang kekuatan jika tidak disadari sepenuhnya.

Kesimpulan

Sorop (2024) bukan sekadar film horor tentang ritual mengerikan dan makhluk gaib. Di balik kisah menyeramkan, film ini sarat dengan tema spiritualitas, trauma keluarga, peran budaya, serta kritik sosial terhadap fanatisme dan ketidaktahuan masyarakat akan akar kepercayaannya.

Dengan membungkus kritik sosial dalam kemasan horor, Sorop berhasil menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya berpikir kritis terhadap tradisi, membongkar rahasia keluarga, dan memutus rantai ketakutan serta trauma yang diwariskan lintas generasi.



Pesan Moral

Keputusasaan dapat menjerumuskan seseorang ke dalam tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Mengandalkan kekuatan gaib untuk menyelesaikan masalah dapat membawa konsekuensi yang mengerikan.

Pentingnya menjaga iman dan tidak tergoda oleh jalan pintas yang tampak mudah namun berbahaya. 

Adegan film Sorop (2024) memperlihatkan karakter perempuan dengan ekspresi kerasukan, mulut terbuka lebar dan jahitan hitam terlihat keluar dari hidung dan mulutnya.
adegan-film-sorop-2024-kerasukan.webp





PENUTUP

Film Sorop (2024) bukan hanya berhasil membius penonton lewat suasana mencekam dan kengerian mistis, tetapi juga menyajikan sajian intens sebuah keluarga yang terjerat ritual kelam. Di balik jeritan, bayangan, dan simbol-simbol supranatural, ia menyimpan pesan penting: konflik personal dan beban masa lalu bisa memicu kekerasan ritual yang menghancurkan. Ending-nya yang dramatis, diwarnai keretakan hubungan antar anggota keluarga, meninggalkan kesan tak mudah hilang—bahwa ketika doa berubah jadi mantra jahat, dan ikatan darah disalahgunakan, maka yang tersisa hanyalah kehampaan dan penyesalan.

Sebagai tontonan horor keluarga, Sorop menyatukan elemen tradisi mistis dan dinamika interpersonal dengan sinematografi mencekam, meretas batas antara rasa takut, simpati, dan rasa bersalah. Buat kamu yang mencari film horor dengan kedalaman emosional dan kekuatan tema ritual leluhur, Sorop adalah pilihan yang tak terlupakan.

💀 Apakah kamu siap memasuki dunia Sorop, menyaksikan bagaimana cinta keluarga bisa diperbudak kekuatan gelap? Jika kamu berani, simpan lampu menyala, dan biarkan bayang-bayang ritualnya menelusup lebih dalam sebelum menutup mata malam ini.

Semoga artikel ini memberikan informasi yang bermanfaat dan menginspirasi Anda untuk menonton film Sorop. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review film Gowok: Kamasutra Jawa – Eksplorasi Cinta, Tradisi, dan Seksualitas dalam Budaya Jawa

Review Deadpool & Wolverine (2024): Kolaborasi Brutal dan Kocak Duo Antihero Marvel

Trilerr Fast X (2023) – Aksi Balas Dendam di Balik Keluarga Toretto