Pinned Post

Review Film Sore: Istri dari Masa Depan — Drama Romantis Time Travel yang Menyentuh Hati

Gambar
Film Sore: Istri dari Masa Depan — Drama Romantis Time Travel yang Menyentuh Hati Pendahuluan Dunia perfilman Indonesia kembali menunjukkan kelasnya dengan hadirnya film Sore: Istri dari Masa Depan, sebuah adaptasi dari web series yang dahulu viral dan kini sukses di layar lebar. Film ini membawa tema yang jarang digarap dengan serius di perfilman lokal: time travel romantis, dibalut dengan emosi yang dalam dan sinematografi yang kuat. Film ini bukan hanya sukses secara jumlah penonton, tetapi juga berhasil meninggalkan kesan mendalam bagi banyak penikmat film Tanah Air, terutama kalangan muda yang terbiasa dengan narasi cinta yang kompleks dan emosional. poster-sore-matahari-terbenam.webp Trailer YouTube: SORE:ISTRI DARI MASA DEPAN Sinopsis Film Sore: Istri dari Masa Depan Premis Cerita Mengambil latar di Jakarta masa kini, Sore: Istri dari Masa Depan bercerita tentang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), seorang pria ambisius yang suatu hari bertemu dengan wanita bernama Sore (dip...

Review Under Paris (2024) – Drama Romantis Menyentuh Hati di Kota Cinta

Under Paris (2024): Teror Hiu Raksasa di Sungai Seine

Under Paris, disutradarai oleh Xavier Gens dan diproduseri untuk platform Netflix, menyajikan premise yang cepat dikenali tetapi sangat mengejutkan: seekor hiu mako raksasa, dinamai Lilith, tiba-tiba muncul di Sungai Seine dan mengancam Paris hanya beberapa hari sebelum kejuaraan triatlon dunia. Premis ini—’What if Jaws happened di tengah kota metropolitan’ —mungkin terdengar gila, tapi inilah yang membuat film B-movie ini justru terasa … menggigit.

Poster resmi film Under Paris (2024) menampilkan dua karakter utama di air bersama sirip hiu besar dan latar Menara Eiffel di kejauhan.
poster-hiu-under-paris-2024.webp



Trailer Resmi




Daftar Pemeran Under Paris (2024)

Pemeran Utama

Bérénice Bejo sebagai Sophia Assalas — seorang ilmuwan oseanografi yang berduka karena timnya tewas diserang hiu, lalu kembali menyelidiki saat hiu raksasa yang sama muncul di Sungai Seine .

Léa Léviant sebagai Mika — aktivis lingkungan muda dari Save the Seas (SOS), yang pertama kali menemukan sinyal keberadaan hiu di Paris .

Nassim Lyes sebagai Adil — kapten polisi sungai yang awalnya skeptis tapi kemudian bekerja sama dengan Sophia untuk menghentikan hiu .


Pemeran Pendukung Penting

Anne Marivin sebagai Wali Kota Paris — pejabat yang menolak menunda triatlon demi menjaga reputasi kota (karakter klasik ala film hiu) .

Marvin Dubart sebagai Markus — anggota tim river brigade (polisi sungai) .

Nagisa Morimoto sebagai Ben — kolega Mika di organisasi SOS .

Aurélia Petit sebagai Angèle — atasan Adil di korps polisi sungai .

Ibrahima Ba sebagai Adama, dan Daouda Keita sebagai Leo — anggota lain dari tim sungai .

Sandra Parfait sebagai Caro — bagian dari jaringan aktivis SOS .

Aksel Ustun sebagai Nils — anggota tim sungai lainnya .

Stéphane Jacquot sebagai Poiccard — ahli peledak yang membantu penanganan hiu .

Jean-Marc Bellu sebagai Berruti — rekan Poiccard sebagai ahli peledak .


Rekan Tim Penelitian Sophia (Mission Ocean Origins)

Yannick Choirat sebagai Chris — suami Sophia, anggota tim yang tewas .

Iñaki Lartigue sebagai Juan .

Victor Pontecorvo sebagai Sam .

Thomas Espinera sebagai Tom .

Anaïs Parello sebagai Jade — anggota tim penelitian yang memberi insight penting mengenai perilaku hiu .

Karakter Sophia berdiri di atas kapal dengan latar lautan, mengenakan pakaian selam hitam, tampak serius menghadapi ancaman bawah laut.
sophia-laut-under-paris-2024.webp



Pembukaan & Trauma (Prolog)

Film dibuka di Samudra Pasifik, fokus pada Sophia Assalas (Bérénice Bejo), seorang ahli oseanografi yang mengejar Lilith, hiu betina misterius. Sayangnya, tragedi cepat terjadi saat timnya, termasuk suaminya Chris, diserang dan dimangsa. Ini bukan sekadar adegan horor—melainkan trauma personal Sophia, meski terasa setengah cheesy, tapi dijalankan agak serius .

Lonjakan & Conflict

Tiga tahun kemudian, Sophia kini bekerja di akuarium Paris, tampak dingin akibat trauma. Saat Mika (Léa Léviant), pemimpin aktivis muda “Save Our Seas Collective”, memunculkan kembali sinyal pelacak Lilith di Seine, Sophia awalnya skeptis. Namun setelah seekor tunawisma ditemukan dengan luka mirip gigitan hiu, keyakinannya bergeser—sinkron dengan struktur naratif thriller klasik .

Konflik utama muncul saat mereka mendapati pertaruhan politik: Wali kota Paris (Anne Marivin) enggan menunda triatlon demi jagain reputasi dan ekonomi kota. Ini menggemakan Jaws dengan kemiripan yang disengaja .

Eskalasi & Kematian

Seiring waktu, adegan-adegan penuh sanguinis mulai bermunculan. CGI hiunya solid saat di air, tapi di adegan tertentu terlihat terlalu dramatis, terutama di klimaks—meskipun memang ada fans yang memfavoritkan unsur-butuh-belief-suspension-nya .

Klimaks & Akhir Mengejutkan

Puncak film terjadi saat Lilith menerobos triatlon dan bahkan masuk ke area katakombe bawah Paris—kebanjiran oleh keran air dan timbunan benda bawah tanah. Pada akhir film, arc naratif gak sepenuhnya terselesaikan, menimbulkan kemungkinan untuk sekuel .

Karakter & Akting

Sophia Assalas (Bérénice Bejo)

Bejo memberi pondasi emosional. Mimpinya kembali dan perlahan terkonfrontasi—dan Bejo menyampaikan kesan “fragile grief” hingga “professional growth” secara proporsional .

Saskia/Sergeant Adil (Nassim Lyes)

Menjadi jembatan karakter dari skeptis menjadi pelindung logic. Lyes memerankan karakter yang grounded dan relatable .

Mika & Aktivis Muda

Sebagai buntut naratif, Mika mewakili kesalahan gerakan alam yang diniatkan baik tapi impulsif. Di komunitas, ada ketidaksukaan:

> _“I also like how most of the deaths was the activists fault. Like none of those people had to die.”_  

Kehadiran karakternya menambah dimensi konflik yang membuat film lebih dari sekadar pertumpahan darah.

Tema & Pesan

 Ekologi vs Politik

Film ini menyematkan pesan ekologis: efek sampah plastik dan perubahan habitat memicu mutasi dan perilaku hiu yang “adapted to fresh water” . Namun ini bukan film peduli lingkungan serius—karena nuansanya tetap bergenre aksi-horor.

Muncul konflik soal politik: kebijakan mengejar reputasi ekonomi vs keselamatan masyarakat. “Wali kota tidak mau menunda triatlon” memberi gambaran satiris yang diedus film .

Trauma & Penelusuran Keberanian

Sophia mewakili survivor yang harus menaklukkan trauma demi misi. Kombinasi karakter ini & Adil sukses menjaga narasi agar tidak cuma mengandalkan CGI.

Kritik terhadap Aktivisme

Lewat Mika & rekan, film memperlihatkan bagaimana idealisme bisa berakibat malapetaka:

> _“…most of the deaths was the activists fault… I so wanted that bitch to eaten by shark.”_  

Komentar ini memperlihatkan backlash penonton atas keputusan karakter yang impulsif.

Sinematografi & Efek Visual

 Visualisasi Paris & Sungai Seine

DP Nicolas Massart menampilkan lanskap indah dan detil jarang We see hiu melewati landmark seperti Menara Eiffel dan kanal kota—memberi sensasi unik .

Adegan “plastik seperti ubur-ubur” di hapusan pembukaan menciptakan tensi, mendorong kesadaran penuh bahayanya sampah laut .

 CGI & Aksi HIu

Mayoritas CGI cukup kuat saat Lilith muncul, walau di adegan akhir ada beberapa shot yang terkesan kurang solid. Babak gila di klimaks bahkan membuat Paris kaget, dan bagi sebagian, ini justru highlight-nya .

 Kelebihan & Kekurangan

Kelebihan

Premis unik: Hiu meneror Paris—hal jarang terjadi di film jenis ini .

Akting solid: Bejo, Lyes, combo balance antara warm & grounded .

CGI laik tonton: CGI yang cukup memuaskan untuk film genre semacam ini .

Pesan sosial: Sentilan ekologi dan politik bisa jadi bahan diskusi.

Kekurangan

Pacing tidak konsisten: Bagian tengah terasa lambat, tumpang tindih dengan groove film B-movie .

CGI melempem di beberapa bagian klimaks: Beberapa shot terlihat overdone .

Naskah klise: Banyak karakter berperan sebagai fodder, alias "fish food" .

Ending ambig: Sekuel seakan dijajakan, tapi ceritanya kurang tuntas .

Karakter Mika dari Save Our Seas melihat ke atas di dalam akuarium, dengan hiu berenang di atasnya dalam nuansa biru gelap.
mika-akuarium-under-paris-2024.webp

BACA JUGA:review film live-or-let-die-2020


Tanggapan Komunitas & Rating

Di Reddit r/horror, reaksi cukup ramai:

> _“This movie was a hilarious testament to government incompetence. Shark attacks in the canals? Time to host a triathlon.”_  

_“The ending was hilarious. It’s a shark movie where the sharks win… laughed my ass off.”_  

Ada juga yang mengkritik:

> _“It felt like a slog that overstays its welcome.”_  

RogerEbert.com memberikannya ulasan sedang—3 bintang dari 4—menyebut filmnya “reasonable diversion on a summer day” yang mencampur homage Jaws dan keceriaan ala Sharknado .

Kesimpulan

Under Paris bukan film wajib tonton, tapi bila Anda suka monster-genre atau shark-horror dengan sentuhan urban satire, ini bisa memuaskan. Beberapa orang akan menikmati pergantian tone yang tajam dari tegang → horor → absurd yang memuncak di finalnya. CGI-nya cukup, akting utama memikat, dan pesannya tetap terasa.

Skor pribadi saya: 3 – 3,5 dari 5, sebanding dengan pendapat Keith Garlington (“a lot of fun… 3.5 stars”) .

 Rekomendasi & Siapa Seharusnya Tonton?

Pecinta film hiu/monster yang cari nuansa kota, bukan hanya laut.

Pengejar hiburan ringan dengan sentuhan gore dan absurd.

Penikmat kritik sosial yang terbungkus dalam film thriller.

Catatan Teknis & Release

Durasi: ±104 menit .

Bahasa: Asli Prancis; tersedia dubbing & subtitle.

Platform: Tersedia di Netflix sejak 5 Juni 2024 .

Rating parental: Usia 15+, banyak kekerasan, darah, gore, dan bahasa kasar “s–t”, “damn” .


Poster alternatif film berjudul Sous la Seine memperlihatkan sirip hiu besar di Sungai Seine dengan bayangan Menara Eiffel di air.
sous-la-seine-poster-hiu-paris.webp

BACA JUGA:review-film-expendables-4-2023


Penutup

Under Paris adalah hiburan yang segar dalam genre hiu: menggabungkan ketakutan klasik Jaws-like dengan setting urban dan sinyal sosial. Meskipun tidak sempurna—pacing inkonsisten, klimaks over-the-top, dan narasi sekuel masih menggantung—film ini punya daya tarik tersendiri lewat akting kuat dari Bejo & Lyes, latar Paris yang memukau, dan kilas humor satiris lewat politik.

Jadi, siapkan pikiran untuk “go with the flow”, karena akhirnya film ini mengalir seperti Seine di malam kelam Paris: straight, brutal, dan, di saat yang sama, menegangkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review film Gowok: Kamasutra Jawa – Eksplorasi Cinta, Tradisi, dan Seksualitas dalam Budaya Jawa

Review Deadpool & Wolverine (2024): Kolaborasi Brutal dan Kocak Duo Antihero Marvel

Trilerr Fast X (2023) – Aksi Balas Dendam di Balik Keluarga Toretto