Review Film Sore: Istri dari Masa Depan — Drama Romantis Time Travel yang Menyentuh Hati
![]() |
| poster-hiu-under-paris-2024.webp |
Pembukaan & Trauma (Prolog)
Film dibuka di Samudra Pasifik, fokus pada Sophia Assalas (Bérénice Bejo), seorang ahli oseanografi yang mengejar Lilith, hiu betina misterius. Sayangnya, tragedi cepat terjadi saat timnya, termasuk suaminya Chris, diserang dan dimangsa. Ini bukan sekadar adegan horor—melainkan trauma personal Sophia, meski terasa setengah cheesy, tapi dijalankan agak serius .
Lonjakan & Conflict
Tiga tahun kemudian, Sophia kini bekerja di akuarium Paris, tampak dingin akibat trauma. Saat Mika (Léa Léviant), pemimpin aktivis muda “Save Our Seas Collective”, memunculkan kembali sinyal pelacak Lilith di Seine, Sophia awalnya skeptis. Namun setelah seekor tunawisma ditemukan dengan luka mirip gigitan hiu, keyakinannya bergeser—sinkron dengan struktur naratif thriller klasik .
Konflik utama muncul saat mereka mendapati pertaruhan politik: Wali kota Paris (Anne Marivin) enggan menunda triatlon demi jagain reputasi dan ekonomi kota. Ini menggemakan Jaws dengan kemiripan yang disengaja .
Eskalasi & Kematian
Seiring waktu, adegan-adegan penuh sanguinis mulai bermunculan. CGI hiunya solid saat di air, tapi di adegan tertentu terlihat terlalu dramatis, terutama di klimaks—meskipun memang ada fans yang memfavoritkan unsur-butuh-belief-suspension-nya .
Klimaks & Akhir Mengejutkan
Puncak film terjadi saat Lilith menerobos triatlon dan bahkan masuk ke area katakombe bawah Paris—kebanjiran oleh keran air dan timbunan benda bawah tanah. Pada akhir film, arc naratif gak sepenuhnya terselesaikan, menimbulkan kemungkinan untuk sekuel .
Karakter & Akting
Sophia Assalas (Bérénice Bejo)
Bejo memberi pondasi emosional. Mimpinya kembali dan perlahan terkonfrontasi—dan Bejo menyampaikan kesan “fragile grief” hingga “professional growth” secara proporsional .
Saskia/Sergeant Adil (Nassim Lyes)
Menjadi jembatan karakter dari skeptis menjadi pelindung logic. Lyes memerankan karakter yang grounded dan relatable .
Mika & Aktivis Muda
Sebagai buntut naratif, Mika mewakili kesalahan gerakan alam yang diniatkan baik tapi impulsif. Di komunitas, ada ketidaksukaan:
> _“I also like how most of the deaths was the activists fault. Like none of those people had to die.”_
Kehadiran karakternya menambah dimensi konflik yang membuat film lebih dari sekadar pertumpahan darah.
Tema & Pesan
Ekologi vs Politik
Film ini menyematkan pesan ekologis: efek sampah plastik dan perubahan habitat memicu mutasi dan perilaku hiu yang “adapted to fresh water” . Namun ini bukan film peduli lingkungan serius—karena nuansanya tetap bergenre aksi-horor.
Muncul konflik soal politik: kebijakan mengejar reputasi ekonomi vs keselamatan masyarakat. “Wali kota tidak mau menunda triatlon” memberi gambaran satiris yang diedus film .
Trauma & Penelusuran Keberanian
Sophia mewakili survivor yang harus menaklukkan trauma demi misi. Kombinasi karakter ini & Adil sukses menjaga narasi agar tidak cuma mengandalkan CGI.
Kritik terhadap Aktivisme
Lewat Mika & rekan, film memperlihatkan bagaimana idealisme bisa berakibat malapetaka:
> _“…most of the deaths was the activists fault… I so wanted that bitch to eaten by shark.”_
Komentar ini memperlihatkan backlash penonton atas keputusan karakter yang impulsif.
Sinematografi & Efek Visual
Visualisasi Paris & Sungai Seine
DP Nicolas Massart menampilkan lanskap indah dan detil jarang We see hiu melewati landmark seperti Menara Eiffel dan kanal kota—memberi sensasi unik .
Adegan “plastik seperti ubur-ubur” di hapusan pembukaan menciptakan tensi, mendorong kesadaran penuh bahayanya sampah laut .
CGI & Aksi HIu
Mayoritas CGI cukup kuat saat Lilith muncul, walau di adegan akhir ada beberapa shot yang terkesan kurang solid. Babak gila di klimaks bahkan membuat Paris kaget, dan bagi sebagian, ini justru highlight-nya .
Kelebihan & Kekurangan
Kelebihan
Premis unik: Hiu meneror Paris—hal jarang terjadi di film jenis ini .
Akting solid: Bejo, Lyes, combo balance antara warm & grounded .
CGI laik tonton: CGI yang cukup memuaskan untuk film genre semacam ini .
Pesan sosial: Sentilan ekologi dan politik bisa jadi bahan diskusi.
Kekurangan
Pacing tidak konsisten: Bagian tengah terasa lambat, tumpang tindih dengan groove film B-movie .
CGI melempem di beberapa bagian klimaks: Beberapa shot terlihat overdone .
Naskah klise: Banyak karakter berperan sebagai fodder, alias "fish food" .
Ending ambig: Sekuel seakan dijajakan, tapi ceritanya kurang tuntas .
![]() |
| mika-akuarium-under-paris-2024.webp |
BACA JUGA:review film live-or-let-die-2020
Tanggapan Komunitas & Rating
Di Reddit r/horror, reaksi cukup ramai:
> _“This movie was a hilarious testament to government incompetence. Shark attacks in the canals? Time to host a triathlon.”_
_“The ending was hilarious. It’s a shark movie where the sharks win… laughed my ass off.”_
Ada juga yang mengkritik:
> _“It felt like a slog that overstays its welcome.”_
RogerEbert.com memberikannya ulasan sedang—3 bintang dari 4—menyebut filmnya “reasonable diversion on a summer day” yang mencampur homage Jaws dan keceriaan ala Sharknado .
Kesimpulan
Under Paris bukan film wajib tonton, tapi bila Anda suka monster-genre atau shark-horror dengan sentuhan urban satire, ini bisa memuaskan. Beberapa orang akan menikmati pergantian tone yang tajam dari tegang → horor → absurd yang memuncak di finalnya. CGI-nya cukup, akting utama memikat, dan pesannya tetap terasa.
Skor pribadi saya: 3 – 3,5 dari 5, sebanding dengan pendapat Keith Garlington (“a lot of fun… 3.5 stars”) .
Rekomendasi & Siapa Seharusnya Tonton?
Pecinta film hiu/monster yang cari nuansa kota, bukan hanya laut.
Pengejar hiburan ringan dengan sentuhan gore dan absurd.
Penikmat kritik sosial yang terbungkus dalam film thriller.
Catatan Teknis & Release
Durasi: ±104 menit .
Bahasa: Asli Prancis; tersedia dubbing & subtitle.
Platform: Tersedia di Netflix sejak 5 Juni 2024 .
Rating parental: Usia 15+, banyak kekerasan, darah, gore, dan bahasa kasar “s–t”, “damn” .
![]() |
| sous-la-seine-poster-hiu-paris.webp |
BACA JUGA:review-film-expendables-4-2023
Penutup
Under Paris adalah hiburan yang segar dalam genre hiu: menggabungkan ketakutan klasik Jaws-like dengan setting urban dan sinyal sosial. Meskipun tidak sempurna—pacing inkonsisten, klimaks over-the-top, dan narasi sekuel masih menggantung—film ini punya daya tarik tersendiri lewat akting kuat dari Bejo & Lyes, latar Paris yang memukau, dan kilas humor satiris lewat politik.
Jadi, siapkan pikiran untuk “go with the flow”, karena akhirnya film ini mengalir seperti Seine di malam kelam Paris: straight, brutal, dan, di saat yang sama, menegangkan.
Komentar
Posting Komentar